Oleh: Yus Rama Denny, S.Si., M.Si., Ph.D.



Minyak jelantah (Waste Cooking Oil atau WCO) adalah minyak goreng bekas yang
telah digunakan berulang kali dalam proses penggorengan sehingga mengalami perubahan warna,
bau, dan komposisi kimia. Minyak ini mengandung senyawa-senyawa yang berpotensi mencemari
lingkungan jika dibuang sembarangan. Namun, minyak jelantah memiliki potensi besar sebagai
sumber bahan baku alternatif untuk produksi biodiesel, sebuah energi terbarukan yang ramah
lingkungan dan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Menurut penelitian oleh Hadrah dkk. dalam jurnalnya yang berjudul, “Analisis Minyak Jelantah
Sebagai Bahan Bakar Biodiesel dengan Proses Transesterifikasi” menyatakan: “Pemanfaatan
minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel sangat penting untuk mengatasi krisis energi dan
pengurangan limbah minyak goreng bekas. Mereka menunjukkan bahwa dengan menggunakan
katalis NaOH dan rasio molar metanol:minyak sebesar 1:4 dalam proses transesterifikasi, biodiesel
dengan yield hingga 95% dapat diproduksi secara efisien. Penelitian ini menegaskan bahwa
biodiesel dari minyak jelantah tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bisa menjadi solusi energi
terbarukan yang bernilai ekonomi tinggi.”
Produk oksidasi dan mengandung asam lemak bebas (FFA) pada minyak jelantah bisa
menyebabkan pencemaran yang serius. Menjadi kebutuhan mendesak pengolahan limbah karena
pembuangan WCO ke saluran air bisa tersumbat serta merusak ekosistem sehingga WCO
membutuhkan tingkat oksigen biologis (BOD) dan kimia (COD) air.
Dengan dampak lingkungan signifikan adalah migrasi perubahan iklim. WCo yang tidak
memerlukan lahan untuk produksi sehingga terdapat Analisis Daur Hidup atau LCA. Biodiesel
yang berasal dari WCO memiliki jejak karbon yang jauh lebih kecil mampu mengurangi emisi Gas
Rumah Kaca (GRK) lebih dari 80% dibanding bakar fosil lainnya.
Transesterifikasi adalah peroses awal mengubah sebuah WCO menjadi biodiesel. Trigliserida pada
minyak jelantah bereaksi dengan alkohol dengan adanya katalis seprti KOH dan NaOH sehingga
menghasilkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau biodiesel.

Penlitian Rhofita Ika Erry pada tahun 2017, penelitian dimulai dengan menyaring minyak jelantah
dengan mengggunakan kasa saring ukuran 60 mesh dan 80 mesh dengan tujuan
menghilangkan sisa kotoran. Kemudian minyak jelantah dilakukan proses pemucatan
(bleaching) dengan memanasakan minyak pada temperatur 70oC selama 1 jam disertai dengan
pengadukan 300 rpm serta menambahkan karbon aktif dari tempurung kelapa sebanyak 7%
dari berat minyak . Pada proses esterifikasi minyak jelantah sebanyak 1 liter direaksikan
dengan 20% metanol dan katalis asam (H2SO4) dengan rasio molar minyak dan katalis
sebesar 1 : 5,6. Proses esterifikasi berlangsung selama 90 menit pada temperatur 60oC
dan kecepatan pengadukkan 600 rpm. Proses transesterifikasi dilakukan dengan mereaksikan
minyak jelantah hasil esterifikasi dengan 20% metanol dengan bantuan katalis basa (KOH)
dengan rasio molar minyak dan katalis sebesar 1 : 5,6. Kecepatan pengaduk yang digunakan 600
rpm dan melibatkan 2 faktor yaitu temperatur transesterifikasi dan waktu transesterifikasi.
Perlakuan temperatur reaksi transesterifikasi diberikan pada 5 level yaitu pada
temperatur 50oC, 55oC, 60oC, 65oC, dan 70 oC. Sedangkan untuk waktu reaksi
transesterifikasi, diberikan pada 4 level yaitu 30 menit, 60 menit, 90 menit, dan 120 menit.
Setelah proses transesterifikasi, biodiesel diendapkan selama 8 jam hingga terbentuk 2
lapisan, lapisan atas berupa biodiesel (FAME) dan lapisan bawah berupa gliserol. Selanjutnya
biodiesel dipisahkan dari gliserol dan dilakukan pencucian dengan menggunakan air hingga pH
air mecapai 7 (netral). Biodiesel hasil pencucian selanjutnya dihilangkan kadar airnya
melalui proses pemanasan pada temperatur 70oC selama 20 menit. Analisis Produk Biodiesel
yang diperoleh dari serangkaian proses tersebut selanjutnya ditimbang untuk mengetahui
jumlah rendemen atau kadar FAME (%Wt) yang diperoleh.
Keunggulan biodiesel tidak hanya melampaui pengganti bahan bakar fosil saja tapi mengurangi
emisi Gas Rumah Kaca (GRK) hingga 80% dibandingan solar fosil, mendukung Ekonomi Sirkular
misalnya Bank Jelantah, mampu memperpanjang usia mesin dengan sifat pelumasnya yang lebih baik. Dibalik itu ada tantangan yang dihadapi industri yaitu konsistensi pasokan bahan baku yang
berkualitas dan biaya produksi yang kompetitif.
Inovasi energi terbarukan indonesia yang paling suskes adalah minyak jelantah bertransfomasi
menjadi biodiesel dengan dukungan tekonolgi misalnya kavitasi dan hidrodinamika sehingga
efisien serta komitmen kebiajakan yang kuat, sebuah limbah dapur menjadi pilar penting dalam
ketahanan energi nasional yang bersih, berjelanjutan.



Sumber Pustaka :
Hadrah, Kasman, & Sari Mayang Fitri. (2018). Analisis Minyak Jelantah Sebagai Bahan Bakar
Biodiesel dengan Proses Transesterifikasi. Jurnal DAUR LINGKUNGAN Februari
2018, Vol. 1 (1): 16-21
Rhofita Ika Erry. (2017). PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH SEBAGAI BIODIESEL:
KAJIAN TEMPERATUR DAN WAKTU REAKSI TRANSESTERIFIKASI.
JURNAL ILMU-ILMU TEKNIK – SISTEM , Vol. 12 No. 3.
Red: “er”
dokumentasi : “untirta_official”